Setiap manusia dilahirkan dalam keadaan jenius. Fitrah manusia adalah memiliki rasa ingin tahu yang tinggi terhadap segala hal. Tetapi potensi ini belum digali secara optimal. Ada beberapa faktor penyebab belum optimalnya potensi setiap individu tersebut digali. Banyak di antara kita sebagai orang tua maupun guru, melakukan sikap dan perbuatan melarang ini dan itu kepada anak, hanya karena ketakutan atau kekhawatiran sesaat. Sikap semacam itu akan menghambat kreativitas dan mental mereka. Ironisnya, orang tua maupun guru tidak menyadari akan hal itu, sehingga saat dewasa anak menjadi kurang mandiri dan selalu tergantung pada orang lain.
Kebiasaan orang tua melarang anak melakukan sesuatu yang menurut orang terlalu berbahaya atau tidak ada manfaatnya, akan menyebabkan kurangnya anak mendapatkan kebebasan dalam berkreasi. Anak belum mengetahui sendiri apa dan bagaimana akibatnya terhadap diri mereka jika berbuat sesuatu. Sehingga anak tidak mengalami sendiri dan mengambil hikmah dan pelajaran dari perbuatannya tersebut. Jika orang tua melarang sesuatu kepada anak dengan alasan terlalu berbahaya atau bisa melukai dirinya, sebagai contoh anak memegang pisau atau benda tajam, sebanarnya orang tua cukup memberi gambaran atau contoh saja. Pegang suatu benda, potong benda itu menggunakan pisau tersebut. Jika anak memperhatikan dan berpikir, pasti anak akan lebih hati-hati mengunakan benda tajam tersebut. Jika terjadi sesuatu yang membahayakan, terluka misalnya, anak menjadi mengerti secara langsung bahwa benda tajam tersebut dapat melukai dirinya kalau tidak digunakan secara hati-hati. Itulah contoh kecil sebagai ilustrasi larangan-larangan yang dilakukan orang tua. Berbeda sekali seandainya setiap kali anak akan memegang pisau, buru-buru orang tua melarangnya, anak akan tertanam bahwa mengunakan pisau akan membahayakan dirinya, sehingga anak tidak pernah mencoba, alias terbunuh kreativitasnya.
Sebagai orang tua sekaligus guru, sebaiknya kita lebih banyak memberi motivasi dan pengarahan kepada anak-anak, bukan selalu mendikte dan mengatur kebebasan anak. Dalam memotivasi anak, kita perlu mengetahui bahwa anak-anak memiliki beberapa karakteristik pembelajaran. Dengan mengetahui karakter-karakter tersebut, kita lebih optimal dalam membentuk anak menjadi generasi yang cerdas, penuh semangat, dan selelu mempunyai rasa ingin tahu yang tinggi terhadap segala hal. Dengan demikian, anak akan tumbuh menjadi manusia dewasa yang mandiri dan independen, tidak selalu bergantung kepada orang lain.
Pertama, tipe Visual. Anak-anak dengan tipe belajar ini terlihat tekun, teliti, detail, lebih suka membaca daripada dibacakan, suka mencurat-coret dikertas yang sedang mereka pelajari tapi amat mudah lupa pada pesan verbal.
Kedua, tipe auditorial. Anak bertipe belajar auditorial lebih mudah mengingat apa yang didengar, menghapal dengan membaca bersuara, bicara dengan nada terpola dan suka berdiskusi. Ketiga, tipe kinestetik. Anak dengan tipe ini suka mendekati lawan bicara dengan gerakan fisik, semisal menggunakan jari dan tangan saat belajar, selain tak dapat lama duduk dalam belajar.
Untuk mengoptimalkan kecerdasan anak perlu meningkatkan komunikasi efektif anak dan orangtua. Komunikasi efektif dapat tercapai apabila orangtua menggunakan bahasa yang sederhana, kalimat pendek-pendek, tempo bicara lambat, bahasa lisan yang sesuai dengan bahasa tubuh, serta yang paling penting adalah ketulusan saat bicara.
Yakinilah bahwa setiap manusia yang lahir memiliki potensi yang sama. Meski dalam kenyataannya ada anak yang cerdas dan bodoh itu semua tergantung pada pola pendidikan yang diberikan oleh orangtuanya. Sebab itu, sebagai orangtua yang baik dan mengharapkan anaknya menjadi orang yang cerdas, tangguh dan berprestasi senantiasa harus bisa memilih dan memilah pendidikan seperti apa yang cock buat anaknya. Jika ia tidak mengetahui maka tanyakanlah pada orang yang bisa mengarahkan bukankah Allah juga memerintahkan dalam kitabnya, Tanyakanlah kepada yang tahu jika kamu tidak mengetahui hal tersebut.
Dengan demikian para orangtua senantiasa berhati-hati dengan berbagai iklan layanan pendidikan. Jangan asal memilih lembaga atau institusi pendidikan buat anak-anak kita. Sebab belum tentu dapat membantu dan mengarahkan anak-anak kita optimal kecerdasannya. Pilih serta pilahlah pola pendidikan yang diberikan kepada anak secara sistematis hingga kelah memberikan kenyamanan bagi anak dalam belajarnya.
Filed under: artikel Tagged: | kretaifitas, mental, pendidikan anak









