Sangat deras informasi tentang tuntutan kinerja guru membuat kita tergelitik untuk mengapresiasinya. Bagaimana tidak ? Guru menjadi sosok yang sangat eksentrik karena menyedot perhatian publik, terutama pihak pembuat kebijakan dan LSM. Tunjangan sertifikasi guru yang notabene belum semua menikmati menjadi biang kemenarikan sosok guru (PNS).
Beberapa informasi yang saya dapatkan misalnya isu (dilontarkan Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi) kewajiban mengajar guru seminggu 37,5 jam. Opsi peningkatan kewajiban jam mengajar ini dilakukan untuk mendongkrak kinerja aparatur. Di satu sisi, dalam aturan sertifikasi, guru harus mengajar sesuai dengan bidangnya. Sementara itu Kementerian Pendidikan Nasional mengeluarkan kebijakan dengan memperbolehkan guru mengajar mata pelajaran lain untuk mengejar kewajiban jam mengajar tersebut.
Carut marut seperti di atas sangatlah tidak fair bagi guru. Dengan 24 jam saja, guru sudah dibuat kalang kabut. Semua tentu mafhum, kasus kesulitan guru sekolah negeri yang harus mendapatkan 24 jam mengajar per minggu dialami hampir semua guru di Indonesia. Faktor adanya kelebihan guru serta kurang meratanya penempatan guru (PNS dan atau honorer) dengan bidang studi sama dalam satu sekolah dalam satu satuan pendidikan (daerah) menjadikan guru sulit untuk memenuhi beban mengajar 24 jam/minggu. Tak pelak, “rebutan” jam mengajar di kalangan guru menjadi tak terelakkan. Pun, kasus “berburu” jam mengajar yang tentu lebih berat dan rumit hampir pasti dialami para guru yang yang telah lulus sertifikasi serta para guru yang mengajar di daerah terpencil.
Tugas guru bukan hanya bekerja bicara atau membimbing siswa ketika terjadi KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) di sekolah. Guru dituntut membuat persiapan, pekerjaan ini justru yang lebih banyak memakan waktu , belum lagi pekerjaan untuk menilai, menganalisis dan sebagainya, apalagi ditambah dengan ide Para Pengawas yang terkadang berbeda antara pengawas satu dengan pengawas lainnya.
Coba saja bandingkan dengan pekerjaan Juragan yang tinggal tanda tangan, atau orang yang bekerja di kantor yang cuma berhadapan dengan benda mati, dan lebih banyak nangkring alias ngobrol kesana kemari ! tapi pienghasilan lebih menggairahkan.
Bukan cuma berdiri di depan kelas, administrasi setumpuk, ulangan harian, ujian tengan semester, ujian akhir semester… harus diperiksa. Kalau mengajar sembilan kelas, banyak siswa perkelas 40 orang.. 360 siswa harus diperiksa pekerjaannya, dianalisis juga…… belum lagi tugas2…….. ditambah lagi mengurus anak anak bermasalah.
Sebenarnya masih ada solusi lain untuk meningkatkan kinerja guru. Misal, dengan terus menerus dan tersistem meng-up grade pengetahuan. Baik melalui sekolah formal, pendidikan dan latihan (diklat), pelaksanaan team teaching, pelatihan IT, kewajiban melakukan penelitian, tugas membimbing siswa dalam kegiatan Karya Ilmiah Remaja, serta studi banding yang implementatif untuk mengajar.
Maka dari itu, penambahan jam mengajar guru perlu untuk dievaluasi dan dikaji ulang. Bila seorang guru dibebani kewajiban mengajar terlalu berat, besar kemungkinan tingkat konsentrasi mengajar guru menjadi terganggu. Artinya, target pembelajaran/pendidikan malah tidak tercapai. Tentu, malah kontraproduktif dengan maksud menambah beban jam mengajar guru.
Pertanyaannya, apakah dengan meningkatkan jam mengajar, guru akan otomatis menjadi pendidik yang baik. Atau, dengan jam mengajar yang bertambah, kualitas pendidikan di Indonesia serta merta akan juga bertambah kualitasnya. Ada perbedaan prinsipil, yakni tinjauan yang terlalu kuantitatif untuk menilai kualitas pendidikan dan hasil pendidikan yang lebih bersifat kualitatif. Senyatanya, proses pendidikan bukanlah seperti proses industri benda yang dapat dikalkulasi secara kuantitatif. Semoga bermanfaat.
File-file tentang Penilaian Kinerja Guru
1. Peraturan Bersama 03 dan 14 tahun 2010.PDF
2. PenyesuaianJabfungGuruNo38Th2010.PDF
3. JuknisJafungGuru-AKNo35Tahun2010.PDF
4. Buku5PedomanPenilaianKegiatanPKB.pd
5. Buku4PedomanPKBdanAngkaKreditnya.pdf
6. Buku3Permenpan16-2009RB.pdf
Filed under: Profil Sekolah









